Sabtu, 28 Agustus 2010

INDAHNYA PERSAHABATAN 4

Aku dan adit sampai di makam rio. Aku dan adit menaburkan bunga dan berdo'a sejenak.
"aku salut sama kamu bro! Meskipun aku nggak pernah ketemu kamu. Aku bangga punya kakak kayak kamu yang berani mati demi sahabatnya." ucap adit mengelus batu nisan rio. Aku tersenyum.
"aku juga salut punya sahabat kakak-beradik yang mau menjagaku. Terima aku apa adanya! Kalian berdua mempunyai sifat mulia. Nggak pernah membeda-bedakan teman." kataku.
"aku juga salut sama kamu fy, kamu kuat banget sering di ganggu sama teman-teman tapi kamu nggak pernah dendam!" aku hanya tersenyum.
"aku salut sama kalian berdua! Aku bangga punya adek kayak kamu dit!" bisik rio. Aku mendengar bisikan itu.
"rio?!" kata adit.
"kamu denger?" tanyaku. Adit mengangguk dan tersenyum. Aku ikut tersenyum.
"fy, janji ya kamu jadi sahabatku selamanya. Rio, aku nggak tau lagi harus ngomong apa semua tentang kamu." kata adit.
"aku janji! Pulang yuk dit. Rio, pulang dulu ya!" kataku. Lalu kami berdua pulang.

Tiga bulan kemudian, aku berjalan ke taman sama adit. Aku duduk di bangku taman. Waktu rio masih ada, rio suka ngajak aku kesana. Bernyanyi bersama, main, bercanda, dan lain-lain. Rio juga teman kecilku makannya aku tau ia sejak lama. Adit membawa gitar, katanya mau ngikutin rio.
"dit, mau nyanyi apa?" tanyaku.
"duet tapi ya fy?" ujarnya. Aku mengangguk. Adit memainkan gitarnya.

Berjanjilah wahai sahabatku
bila kau tinggalkan aku
tetaplah tersenyum
meski hati sedih dan menangis
ku ingin kau tetap tabah menghadapinya
bila kau harus pergi meninggalkan diriku
jangan lupakan aku
semoga dirimu disana
kan baik-baik saja
untuk selamanya
disini aku selalu rindukanmu
wahai sahabatku
(rindukan dirimu-rio)

aku tersanjung mendengar suara adit. Mirip sekali dengan suara rio.
'andai rio ada disini, kita pasti bersahabat bertiga.' batinku.
"fy, kamu ingat rio ya?" tanya adit. Aku mengangguk. Adit tersenyum. "yo, noh si ify inget kamu! Kamu baik-baik kan? Kita kan sahabat kamu, kamu mau kita senyum kan, nggak cemberut kayak ify?" tanya adit menatap langit.
"rio pasti denger kata-kata kamu dit!" kataku. Adit tersenyum dan pergi.
"lah.. Adit, kok aku ditinggal sendiri?" tanyaku. Lalu adit kembali memberi sebuah kalung. Dan disana lioontinnya sebuah piano dan gitar. Kalau dibuka ada foto adit, rio-ify lagi tertawa bahagia.
"ini tanda persahabatan aku, kamu, sama rio. Kamu jaga baik-baik dan aku bakal simpen gelang ini." kata adit memamerkan gelang dan tulisannya "adit-ify-rio best friend" ada dua. Katanya satu lagi bakal disimpen di kamar rio. Adit dan aku melihat rio lagi tersenyum dan ia menghilang lagi.
"kita pasti kangen kamu yo!" kataku dan adit bersamaan.
"aku juga pasti kangen kalian." bisik rio. Aku dan adit tersenyum. Aku baru merasakan indahnya persahabatan antara aku, adit dan rio. Walaupun rio berbeda alam, tapi masih ada kehangatan persahabatanku dan rio. Selamanya akan tetap sahabat.

INDAHNYA PERSAHABATAN 3

Aku bercanda, makan, dan lain-lain di kantin bersama adit. Shilla menghampiriku dan adit. Aku takut shilla mencemoohku lagi.
"ify.." panggil shilla. Aku menoleh pada shilla dan mukaku berubah menjadi takut. "ify, maafin aku ya! Aku suka nuduh kamu sembarangan. Ify, aku baru ngerti, rio meninggal karena takdir. Rio mulia banget fy, mau nolongin sahabatnya sendiri meskipun itu bisa merenggut nyawanya. Ify kamu mau maafin aku kan?" tanya shilla. Shilla menangis. Aku memegang pundak shilla.
"sudah sejak dulu aku maafin kamu shil!" kataku tersenyum. Shilla tersenyum juga. Adit pun begitu.
"nah gitu dong! Aku kan ikut seneng kalau kalian berdua akur. Hehe.." kata adit.
"fy, kamu mau jadi sahabat aku kan?" tanya shilla. Aku mengangguk.
"kacang-kacang!" celetuk adit.
"apaan sih kamu dit. Lagi haru biru juga!" kata shilla. Aku tertawa. Tiba-tiba sosok alvin datang ke hadapanku. "shilla, ayo ke kelas, bentar lagi bel." ajak alvin. Aku kaget dan bingung.
"ify, aku balikan sama alvin, aku masih sayang sama alvin. Bilangin rio ya, maafin aku! Aku juga sayang kok sama rio." bisik shilla tersenyum lalu pergi bersama alvin. Aku melihat rio berdiri di pojokan. Rio tersenyum seakan-akan mengatakan padaku.
"aku senang shilla bahagia sama alvin. Aku senang kalau kalian udah akur lagi!" aku ikut tersenyum.
"fy, kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya adit.
"tadi aku liat rio. Seakan-akan rio senang melihat semua ini!" jawabku.
"oalah.. Fy, balik ke kelas yuk!" ajak adit. Lalu kami ke kelas.

Enam bulan sudah aku bersahabat dengan adit. Aku senang sekali. Aku bisa tersenyum dan ceria lagi. Tapi tetep aja ngirit ngomong. Aku ngajak adit ke rumah untuk bertemu mama dan mama rio. Begitu adit sampai di gazebo rumahku, adit kaget.
"mama?!" kata adit.
"adit!" kata mamanya.
"loh.. Kok mama tau mamanya ify sama rio?" tanya adit.
"ify.. Adit.. Duduk nak!" kata mamaku. Adit dan akupun duduk.
"adit, ify, mungkin ini saatnya kalian tau." kata mama rio.
"maksudnya apa?" tanyaku dan adit bersamaan.
"kamu lihat foto ini dit," kata mama adit. Ada dua orang bayi kembar dan sangat mirip. Bayi itu lucu sekali.
"ini kamu sama rio, lucu kan dit?" tanya mama rio. Adit semakin bingung. Akupun begitu. Mama adit dan mama rio menghela napas panjang. Mama adit menceritakan semuanya.
"dit, sebenarnya kamu bukan anak kandung mama. Tapi mama rio adalah ibu kandungmu dit!" kata mama adit. Aku shock. Aditpun begitu.
"adit masih nggak ngerti ma!" kata adit. Aku lihat mama rio sudah menangis. Mamaku sepertinya tau rahasia ini.
"ify, adit. Kalian harus tau bahwa rio adalah kakak kembar adit. Rio juga baru mengetahui ini tiga hari sebelum ia meninggal. Mungkin ia tidak sdmpa cerita ke kamu fy. Dan mama rio pun kaget melihat adit. Sebenarnya mama rio mau memberi nama anaknya adalah mario stevano aditya haling. Tetapi karena mama rio melahirkan anak kembar, makannya nama kalian dipisah. Nama rio adalah mario stevano dan nama adit adalah aditya haling." jelas mamaku.
"tapi kenapa adit harus dipisah sama rio?" tanya adit.
"dit, perekonomian keluarga kamu dan rio waktu itu sangat tipis. Jadi kamu mama angkat sebagai anak angkat. Maaf adit, maa nggak pernah cerita tentang ini. Mama nggak tega dan mama takut kamu ninggalin mama. Dan sekarang mama ikhlas kalau kamu mau tinggal sama mama rio." kata mama adit.
"jadi, adit adalah sebagian dari rio dan rio adalah sebagian dari adit?" tanyaku tak percaya.
"iya sayang.." kata mama rio sambil mengusap air matanya. Lalu ia memeluk adit. "kamu anakku nak!" katanya. Adit ikut menangis. Aku baru melihat adit menangis. Akupun ikut menangis dan memeluk mamaku.
"adit mau tinggal sama mama kan?" tanya mama rio.
"bagaimana dengan mama?" tanya adit melihat mama angkatnya.
"mama kamu boleh ikut kok!" kata mama rio tersenyum. Mama adit ikut tersenyum.
"tante, ify mau ke makam rio." kataku.
"adit juga!" samber adit.
"ya udah kalian kesana, do'ain rio ya!" kata mamaku. Aku dan adit pun langsung berangkat ke makam rio.

INDAHNYA PERSAHABATAN 2

Bel istirahat berbunyi. Semua anak-anak berhamburan keluar kelas. Aku hanya duduk dan melamun. Aku menatap kosong.
"fy, mau ke kantin nggak?" tanya adit. Aku menggeveng. "ya udah, aku beliin aja ya!" ujar adit lalu pergi ke kantin. Aku masih ingat dengan rio. Aku mengeluarkan sebuah boneka dan memencet boneka itu.
"rio sahabat ify.. Rio sahabat ify!" aku menangis lagi.
"ify, jangan nangis lagi dong! Aku sedih nih." kata seseorang.
"rio?!"
"ify, suatu saat nanti kamu bakal tau siapa itu adit." kata rio. Aku melihat rio mau memegang wajahku, seakan ia mau menghapus air mataku. Sayang itu gagal. Rio tidak bisa menyentuhku. Aku buru-buru menghapus air mataku.
"maksud kamu apa yo?" tanyaku.
"nanti kamu tau fy. Aku juga sedih ngeliat shilla nangis terus. Fy, tolong ya kamu jangan berantem lagi sama shilla. Kalo kamu kangen aku, pencet aja boneka itu." tiba-tiba rio menghilang entah kemana, dan adit datang.
"ify, tadi kamu ngomong sendiri?" tanya adit. Aku menggelen
"hm, ya udah. Nih aku bawain roti!" kata adit menyodorkan roti. Aku tersenyum dan memakan roti itu.
"fy, maaf aku lancang. Tapi aku mau nanya sama kamu. Sepenting apa kah rio, sampe kamu kayak gini? Aku rasa kamu depresi.. Maaf.." kata adit. Aku menatap adit.
"rio penting bagiku dit. Kalau aku depresi, kamu nggak mau temenan sama aku? Kamu mau membenciku seperti teman-teman yang laen?" tanyaku.
"eh.. Maksudku bukan begitu. Aku malah mau banget temenan sama kamu. Sejak ketemu kamu, bagiku kamu istimewa loh! Eh, masa' tadi aku ketemu ada cewek, tinggi, cantik sih lumayan dan dia histeris ketika dia ketemu aku. Kenapa ya?" kata adit. Aku kaget.
"mungkin itu shilla." kataku.
"shilla?" tanya adit lagi heran.
"pacarnya rio!" kataku lagi.
"ify, jangan sedih lagi dong. Kalo kamu mau cerita, cerita aja sama aku ya! Aku siap jadi pendengar kok. Eh fy, nanti aku boleh nganter kamu pulang nggak?" tanya adit. Aku tersenyum dan mengangguk. Lalu bel masuk berbunyi dan aku melanjutkan pelajaran.

Bel berbunyi. Aku bergegas pulang. Adit menarik tangankt. Aku menoleh padanya.
"fy, katanya mau pulang bareng?" tanya adit.
"oh iya, yuk!" ajakku. Lalu kami berdua pulang bersama. Disaat di parkiran...
"rio..!!" teriak seseorang. Adit menoleh, akupun menoleh.
"shilla." kataku. Shilla berlari dan langsung memeluk adit. Adit kaget.
"eh maaf, aku bukan rio!" kata adit.
"kamu rio! Rio, masa' kamu lupa sama aku? Aku pacar kamu! Aku baru jadian sama kamu sehari dan kamu tinggalin aku gitu aja selama 3 tahun?! Kemana kamu selama ini rio?" tanya shilla.
"eh beneran. Aku bukan rio!" kata adit.
"rio, kamu ngapain sih masih sama cewek sialan ini? Dia yang bikin kamu mati yo! Dan ninggalin kamu kayak gini!" kata shilla melihatku di samping adit.
"shillaaa aku bukan rioo!! Aku adiiit!" teriak adit, ia geram.
"hah?" shilla tak percaya.
"adit memang mirip rio. Tapi dia bukan rio." celetukku. Shilla tidak percaya. Ia menangis sejadi-jadinya. Lalu ia pergi. Aku sedih lagi. Entah kenapa aku ingat rio yang tadi menemuiku.
"ify, pulang yuk!" ajak adit. Aku mengangguk dan menerima helm dari adit.

Sesampai di rumahku, aku mengajak adit ke gazebo rumahku. Mamaku kaget melihat adit. Dan disana ternyata ada mama rio.
"rio?!" ucap mamaku dan mama rio.
"maaf tante, saya adit, bukan rio." kata adit tersenyum.
"adit?! Berarti kamu.."
"bukan saatnya kamu memberi tau kepada ify dan adit, manda!" bisik mamaku. Aku tak tau mama berbisik apa pada mama rio.
"berarti apa tante?" tanyaku.
"berarti, tante manda lagi inget sama rio kayaknya" sambung mamaku.
"tante, ify juga inget rio kok. Ify kangen sama rio." kataku.
"tante, kalo tante kangen sama rio, adit mau kok sering-sering ketemu tante, mama ify dan ify." kata adit tersenyum.
"hah? Benar kamu dit?" tanya mama rio. Adit mengangguk. Aku, mama dan mama rio tersenyum.
"adit pulang dulu ya tante! Besok adit kesini lagi.

Sekarang adit jadi sering ke rumahku. Mama rio jadi lebih sering tersenyum sejak ada adit. Akupun begitu. Satu per satu teman-temanku mau bergabung denganku. Ini karena adit, adit yang membuatku ceria walau kalau aku ingat rio aku suka nangis/sedih sendiri.

INDAHNYA PERSAHABATAN 1

Aku berjalan menelusuri lorong sekolahku. Banyak yang berbisik-bisik saat aku melewati mereka. Tak terkecuali shilla. Ya, shilla yang selalu membenciku. Mungkin shilla membenciku karena 3 tahun yang lalu, katanya aku sering merebut kebahagiaan dia.
"dasar kamu cewek gembel, masih aja sekolah disini!" tutur shilla.
Aku sering mendapat cemooh seperti itu, dan satu lagi aku sering banget diganggu. Aku pernah dikurung di kamar mandi sampai aku pingsan. Mereka juga pernah mengurung aku di gudang yang gelap, padahal mereka tau kalau aku phobia gelap. Aku juga pernah didorong sampai tangan dan mulutku berdarah. Aku nggak tau kenapa mereka membenciku. Tak ada satupun yang mau bersahabat denganku. Dulu aku punya sahabat, rio namanya. Dia meninggal 3 tahun yang lalu. Ia menolongku.

FLASHBACK--)
Aku bertengkar hebat dengan rio. Aku marah padanya gara-gara rio jadian sama shilla. Ada perasaan hancur, cemburu, sakit, marah, kasihan, sedih, dan lain-lain. Campur aduk deh pokoknya.
"yo, aku tau shilla gimana!! Please kamu dengerin aku!" kataku
"fy, shilla nggak sejahat yang kamu kira." kata rio.
"shilla cuma mau manfaatin kamu rio, semenjak dia putus sama alvin." teriakku.
"ify, kamu dengerin aku! Shilla nggak mungkin kayak gitu ke aku. Shilla sayamg sama aku fy. Aku juga sayang sama dia." kata rio memegang pundakku. Aku langsung melepas pegangannya.
"jangan sentuh aku, kenapa kamu nggak pernah mau dengerin aku rio?" tanyaku.
"fy, bukannya aku nggak mau dengerin kamu. Tapi.."
"cukup yo! Kamu nggak pernah nganggap aku sahabat kamu kan? Makannya kamu nggak pernah mau dengerin aku!" bentakku.
"ify, aku sayang yama kamu sebagai sahabatku. Shilla nggak sejahat yang kamu kira. Please ngetiin aku fy!" kata rio lagi, memohon.
"aku juga minta pengertian kamu rio!!" kataku. Aku pergi meninggalkan rio. Aku menyebrang tapi aku nggak liat kanan kiri dulu, langsung nyebrang. Aku nggak tau kalo ada bus mau menghantam tubuhku. Tiba-tiba dari belakang.
"ifffyyy awaaas!!" teriak rio. Rio mendorongku dan aku tersungkur di trotoar. Rio, dia langsung meninggal di tempat dan berita tentang rio langsung masuk dalam media-media. Aku sedih dan sangat menyesal. Dalam pemakaman aku menangis. Shilla menatapku sinis.
"dasar cewek pembawa sial!" kata shilla sambil menjambak rambutku.
"shilla, sakiiit!" lirihku. Mamaku dan mama rio segera memisahkanku dan shilla.
"sudah nak shilla, relakan saja rio!" kata mama rio. Aku menangis di pelukan mamaku. "nak ify, maafin semua kesalahan rio ya. Shilla ini dari rio, ify ini juga dari rio." ucap mama rio memberikan dua kotak yang berbeda bungkus.

Aku membuka kotak dari rio di rumah. Isinya sebuah boneka doraemon yang ketika dipencet, boneka itu bersuara "rio sahabat ify.. Rio sahabat ify.." dengan suara doraemon yang khas. Aku menangis lagi memeluk boneka itu.
"yo, harusnya kamu nggak nolongin aku!" batinku. Maa rio masuk ke dalam kamarku.
"nak ify.."
"tante?"
"fy, kamu jangan nangis terus dfng. Rio pasti sedih ngeliat kamu!" kata maa rio yang ikut menangis.
"lah, kok tante juga nangis? Jangan dong tante, kasian rio!" ucapku.
"fy, tante pasti bakalan kangen sama cerewetnya rio. Tiap malam dia di balkon sama tante. Ngomongin kamu terus. Cerewetnya kamu, bawelnya kamu, ngambeknya kamu, baiknya kamu. Semuanya tentan kamu. Dia pernah bilang kamu sahabat terbaik buat dia," kata mama rio. Aku tersenyum.
"rio, aku sayang kamu bro!" batinku.
FLASHBACK END--)

Aku ke kelas. Aku duduk di depan paling pojok dekat jendela. Aku duduk sendiri. Bu winda masuk ke dalam kelasku.
"anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru, namanya adit. Adit, ayo masuk!" ajak bu winda. Adit masuk, aku kaget dan shock. Aku menepok-nepok pipiku.
"rio?!" ucapku. Semua anak-anak menoleh ke arahku. Adit memandangku dengan tatapan aneh.
"ify, kamu kenapa?" tanya bu winda, mengelus rambutku. Tiba-tiba air mataku jatuh. Aku mengenang sosok rio.
"dasar anak aneh, baru liat adit aja udah nagis!" ucap seorang temenku.
"diam kalian semua! Ify, kamu kenapa?" tanya bu winda sekali lagi.
"ify ingat sahabat ify.. Namanya rio.. Dia tewas nolongin.. Ify!" jawabku tersedu-sedu. Adit hanya menatapku heran.
"dasar cewek pembawa sial kamu!" seru teman-temanku.
"kalian jangan ribut! Apa mau ibu hukum?" tegas bu winda. Semua diam.
'rio? Perasaan aku pernah denger tuh nama. Tapi siapa?' batin adit.
"oh, ya sudah. Mugkin kalo kamu berteman dengan adit, kamu bisa ngobati kangen kamu sama rio. Adit kamu duduk di samping ify ya!" ujar bu winda. Adit mengangguk dan tersenyum. Lalu dia duduk sebangku denganku.
"fy, kamu jangan nangis lagi ya, aku bakalan jadi sahabat kamu kok. Meskipun nggak bakal bisa gantiin rio." bisik adit padaku. Aku tak berekspresi. Lalu bu winda melanjutkan pelajaran.